Latest Post
Kesenian Tradisional Khas Klaten
Written By nursetya on Senin, 30 September 2013 | 11:08:00 AM
Kabupaten Klaten memiliki berbagai macam kesenian tradisional yang
merupakan aset untuk mengembangkan kepariwisataan di Klaten, adapun
kesenian tradisional tersebut antara lain :
Kabupaten memiliki berbagai macam kesenian tradisional yang merupakan
aset untuk mengembangkan kepariwisataan di Klaten, adapun kesenian
tradisional tersebut antara lain :
1. Sendratari Roro Jonggrang
Mengangkat sebuah legenda terjadinya candi prambanan. Sendratri roro
jonggrang mengisahkan jalinan asmara Bandung Bondowoso dengan Dewi Roro
Jonggrang yang berakhir secara tragis. Menyadari bahwa calon suaminya
adalah pembunuh Prabu Boko, Ayah yang dicintainya. Gejolak hati untuk
membalas dendam, maka syarat pinangan bandung harus mampu mewujudkan
candi yang berjumlah seribu buah. Adalah suatu permintaan yang sulit
untuk diwujudkan dalam waktu satu malam. Dengan bala bantuan raja
tentara jin yang bernama Bondowoso diharapkan dapat mewujudkan jumlah
seribu candi sebelum fajar tiba, namun alunan gejog lesung yang
mengisyaratkan aktivitas manusia menumbuk padi pada pagi hari sebagai
tanda fajar tiba dilakukan oleh masyarakat prambanan atas perintah dewi
roro jonggrang, yang berarti bandung gagal mewujudkan impiannya.
Kekesalan dan kemarahan bandung atas kelicikan dari roro jonggrang, maka
disumpahlah dewi roro jonggrang menjadi arca untuk melengkapi jumlah
seribu candi
2. Jatilan
Jatilan adalah tari tradisional yang menggambarkan tentang keprajuritan,
pada waktu perang perangan yang dilakukan beberapa orang dengan cara
naik kuda kepang. Dalam tari Jatilan ini diperagakan dengan pakai kuda
kepang atau kuda lumping yang dikendalikan oleh seorang pawang yang
diawasi oleh Ki pentul dan Ki tembem.
Diiringi dengan gamelan yang berupa : kendang,bende dan kecer.
Dalam tari Jatilan ini dimasukan unsur magis yang melambangkan kekebalan
dari pihak pemain mengenakan topeng atau kacamata hitam.
Tari Jatilan di Kabupaten Klaten yang terkenal Tari Jatilan dari Desa
Bugisan Kecamatan Prambanan. Tari Jatilan ini dipentaskan tiap hari
jumat di panggung terbuka di Desa Bugisan Kecamatan Prambanan untuk para
turis asing maupun domestik.
3. Ketoprak
Ketoprak adalah kesenian rakyat yang berbentuk sandiwara atau drama,
ketoprak ini timbulnya pada tahun kurang lebih 1922 pada masa
Mangkunegaran. Sebagai ilustrasi diiringi Gamelan yang berupa
lesung,alu,kendang dan seruling, karena cerita atau pantun-pantunnya
merupakan sindirian kepada pemerintah atau kerajaan maka kesenian
ketoprak ini lalu dilarang.Namun karena kesenian rakyat akhirnya tetap
berkembang di daerah pedesaan atau pesisiran.Setelah sampai di
Yogyakarta ketoprak ini disempurnakan dengan iringan gamelan jawa
lengkap dan tema ceritanya mengambil babad sejarah, cerita rakyat atau
kerajaan sendiri.
Ketoprak ini dilakukan oleh beberapa orang menurut keperluan
ceritanya.Adapun ciri khas dari ketoprak ini dilakukan dengan dialog
bahasa jawa.
4. Srandul
merupakan kesenian tradisional rakyat yang menggambarkan tentang
kehidupan demang pada jaman kerajaan.
Srandul biasanya dilakukan kurang lebih 15 orang lengkap dengan
iringannya yang berupa : kendang,angklung dan terbang besar.
Dalam kesenian srandul ini dilakukan dengan dialog yang berupa parikan
atau tembang dan percakapan. Kesenian srandul ini semula timbul di dukuh
Jogodayoh Desa Gumulan .Adapun srandul ini masih berkembang dengan baik
di Prambanan dan Kemalang.
5. Sruntul
Pada waktu itu para seniman banyak yang ngamen, karena untuk mementaskan
kesenian srandul terlalu jemu sedang untuk mementaskan kesenian
ketoprak terlalu banyak peralatannbnya, sehngga timbullah perpaduan
antara sruntul dan ketoprak.
Disebut dengan sruntul karena datangnya tanpa diundang dan bersikap
sruntal sruntul.
Pada saat itu berkembang dengan pesat karena kesenian ini dianggap lebih
modern.
Ciri Khususnya :
- pemain bisa merangkap sebagai penabuh
- dengan memakai lampu penerangan oncor
- tema cerita terdiri tiga babak dan setiap babak bisa terjadi beberapa
adegan
- bentuk pakaian sangat sederhana dan pengiring gamelannya berupa :
demung,saron,gong,kempul,kenong,angklung,terbang,jedor
6. Tari Topeng
Tari topeng adalah kesenian tradisional yang para pemainnya mengenakan
topeng sesuai dengan peran atau dapukaannya.
Timbulnya kesenian ini dari Kediri Jawa Timur, tari topeng dilaksanakan
dengan percakapan atau dialog dan diiringi gamelan jawa selendro
lengkap. Adapun tema ceritanya : Cerita Panji.
Di Kabupaten Klaten untuk pertama kali dilaksanakan oleh para dalang
wayang kulit dan perkumpulan tari topeng yang terkenal bernama Magodo di
Desa Jogosetran Kecamatan Kalikotes.
Keistimewaan Tari Topeng pada saat itu :
- tidak setiap orang bisa melakukannya kecuali para dalang
- kesenian topeng ini dalam dialog dengan melepaskan topeng dari
gigitan, akan tetapi tetap dipegang untuk menutupi mukanya
- tarian ini khusus dipentaskan pada waktu siang hari dan tidak
dilaksankan pada malam hari
Namun demikian pada saat sekarang tari topeng tersebut sudah dpat
dilaksnakan oleh para remaja.
7. Wayang Babad
Wayang babad adalah suatu bentuk kesenian rakyat berupa wayang kulit
yang ceritanya diambil dari cerita babad atau ketoprak. Wayang babad ini
bisa dipentaskan siang hari maupun malam hari dengan diiringin gamelan
lengkap slendro dan pelog.
Kesenian ini dimainkan oleh seorang dalang, adapun cerita wayang babad
ini bertemakan cerita-cerita yang mirip dengan ketoprak.
Keistimewaannnyaadalah bentuk dari wayang tidak seperti wayang
purwa,melainkan seperti bentuk ketoprak.
Lama pementasan menurut kebutuhannya, adapun timbulnya wayang babad ini
setelah kemerdekaan dalam rangka penerangan kepada masyarakat sampai
sekarangh klesebian ini masih terpelihara dengan baik di desa ceporan
kecamatan gantiwarno.
8. Wayang Klitik
merupakan bentuk kesenian wayang yang dibuat dari kayu. Ceritanya
bertemakan cerita Panji atau cerita Majapahit, dilaksnakan oleh seorang
dalang yang diiringin gamelan jawa yang berupa :
kendang,saron,wilahan,ketuk,kenong,kem[pul,gong dan suwukan.
Ciri Khas : dalang kalau memerannkan adegan perang dengan
tarikan,sulukan dengan tembang mocopat.
Adapun dialog perakapan seprti wayang purwa.Timbulnya kesenian ini sejak
kerajaan Singosari, dan sampai sekarang masih terpelihar dengan baik di
Kecamatan Gantiwarno.
9. Wayang Sadat
Wayang sadat adalah suatu bentuk kesenian rakyat yang berupa watyang
kulit, namun cerita wayang sadat ini bertemakan cerita cerita sejarah
Islam dan ceritanya diambil dari cerita akhir kerajaan Majapahit sampai
awal kerajaan Mataram.
Wayang sadat ini dapat dipentaskan siang hari amaupun malam hari,
kesenian ini dimainkan oleh seorang dalang dengan diiringi gamelan
lengkap slendor dan pelog.
Keistimewaan :
- teknik pakeliran bersifat kontemporer menurut jalan ceritanya
- Jajar pertama tidak harus atau mesti kraton
- Untuk kayon atau gunungan sebelah kanan gunungan didampingi pohon
beringin dan gunungan sebelah kirinya didampingi pohon kelapa
- Warna kelir kuning, bingkai hijau dengan ukuran kurang lebih 3,5 meter
lebar 2 meter
Lama pementasan menurut kebutuhan, dialog percakapan dengan bahasa jawa.
Timbulnya kesenian ini sejak tahun 1970, sampai sekarang kesenian ini
terpelihara dengan baik di Desa Mireng Kecamatan Trucuk.
10. Kesenian Paguyuban Musik Bambu Pring Sedapur
Kesenian ini lahir di dukuh purwaddadi, desa bugisan kecamatan
prambanan. Kesenian ini diciptakan oleh seorang tokoh seni bernama
Suparman Hadi, seni ni berawal dari guyubnya kekeluargaan dan kebiasaan
ronda malam yang menggunakan peralatan dari bambu (tek-tek untuk
berkeliling kampung menjaga kemanan desa).
Mengambiol nama prin Sedapur dengan maksud bahwa perkumpulan ini sangat
erat seperti serumpun bambu yang sulit untuk dipisahkan satu persatu.
Drai musik ini telah berkembang menjadi campur sari namun tetap tidak
menghjilangkan peralatan dari bambu.
11. Kesenian Gejog Lesung
Kesenian gejog lesung lahir di dukuh soran desa Duwet Kecamatan Ngawen
jarak dari kota Klaten kurang lebih 4km arah utara Klaten.
Kesenian ini musik tradisional kuno yang saat ini hampir punah dan
mempunyai nilai seni yang tinggi khususnya bagi para petani yang sedang
mengungkapkan rasa kegembiraannnya setelah musim panen padi tiba,
masyarakat berkumpul bersama, bersuka ria sambil menumbuk padi di lesung
dengan antan dan mengalunkan lagu lagu untuk melepas lelah dan dahaga.
Kesenian ini mengandung unsur penyampian informasi kepada masyarakat
sekitar bahwa pada saat tersebut ada orang punya hajat atau supitan dll,
dan juga kalau ada gerhana bulan.
Lurik Pedan
Kain lurik dengan motif garis-garis vertikal
memanjang merupakan salah satu nama besar yang lahir dari salah satu
kecamatan di sudut Kabupaten Klaten yang bernama Pedan. Dulu menurut cerita, lurik menjadi salah satu primadona. Industri Lurik
Pedan pernah sangat berjaya kala itu, sekitar tahun 1950an hingga
akhirnya sekarat karena serbuan kain-kain dengan warna memikat serta
murah.
Setelah beberapa masa terpuruk, kini lurik mulai menggeliat. Program Lurikisasi yang diusung Pemkab Klaten dengan mengeluarkan kebijakan agar karyawan Pemkab Klaten mengenakan lurik Pedan sebagai seragam pada hari Kamis tentu saja bukan hanya bisa mengangkat kembali nama lurik, tapi juga potensi ekonomi lokal. Salah satu kebijakan diambil dengan cukup jeli. SALUT!
Kain Lurik Pedan dibuat dengan menggunakan bahan benang katun yang ditenun dengan alat tenun tradisional
(ATBM). Sedangkan untuk proses pewarnaan dimulai dari benangnya,
sehingga setelah benang ditenun sempurna maka warna kain depan dan
belakang adalah sama. Corak-corak dari lurik sendiri cenderung vertikal
memanjang. Namun corak tersebut tidak hanya monoton begitu saja.
Akhir-akhir ini banyak desain-desain menarik yang coba dikembangkan oleh
para pengrajin dengan desain motif yang tidak selalu berbentuk vertikal
lurus dan memanjang namun ada aplikasi-aplikasi lain yang membuat kain
lurik ini kian menarik.
Salah satu pengembangan dari kain lurik adalah menambahkan batik di atas kain lurik tersebut, sehingga terciptalah Lurik Batik yang unik sekaligus memikat.
Melihat bagaimana Pemkab Klaten untuk kembali mengangkat nama lurik ke pasaran, tentu saja upaya ini perlu didukung oleh semua pihak, terutama warga Klaten sendiri.
Ya, tentu saja saya berharap lurik ini kembali menemukan masa-masa jayanya kembali. Semoga!
Belajar adalah Ibadah
Written By nursetya on Sabtu, 28 September 2013 | 8:55:00 AM
Belajar dan ibadah merupakan hal penting yang menjadi bekal utama bagi
kehidupan dunia dan akhirat. Dengan belajar, manusia mendapatkan ilmu
pengetahuan yang diperlukan dalam hidup. Terutama di zaman globalisasi
sekarang ini. Ilmu pengetahuan bergerak sangat cepat. Kalau kita tidak
mengikutinya maka keberadaan kita akan tetinggal.
Tanpa beribadah, tidak mungkin sesorang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah. Orang yang tidak beribadah tidak mungkin meraih karunia Allah. Sedemikian banyak manfaat yang diraih dengan ibadah, terutama bagi kesehatan mental dan juga terutama jiwa. Oleh sebab itu, belajar harus disandarkan ibadah kepada Allah Subhânahû wa Ta`âlâ.
Islam berdasarkan ajarannya pada wahyu dan akal, tentu tidak bisa dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Sesorang menurut Islam mendapatkan dua amanat, yakni amanat ubudiyah dan khilâfah. Kedua amanat tersebut tentu tidak mungkin terlaksana tanpa ada ilmu. Maka, mengemban amanat itu harus dibarengi dengan ilmu.
Tanpa beribadah, tidak mungkin sesorang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah. Orang yang tidak beribadah tidak mungkin meraih karunia Allah. Sedemikian banyak manfaat yang diraih dengan ibadah, terutama bagi kesehatan mental dan juga terutama jiwa. Oleh sebab itu, belajar harus disandarkan ibadah kepada Allah Subhânahû wa Ta`âlâ.
Islam berdasarkan ajarannya pada wahyu dan akal, tentu tidak bisa dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Sesorang menurut Islam mendapatkan dua amanat, yakni amanat ubudiyah dan khilâfah. Kedua amanat tersebut tentu tidak mungkin terlaksana tanpa ada ilmu. Maka, mengemban amanat itu harus dibarengi dengan ilmu.
Awal kerasulan Rasulullah Shalla-l-llâhu `alayhi wa sallama (SAW), dimulai dengan perintah membaca dan menyebut nama Tuhan yang menciptakan.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ اْلـَّذِيْ خَلَقَ
Artinya:
Bacalah (wahai Muhammad), dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan... (Al-`Alaq: 1)
Ilmu pengetahuan tidak datang begitu saja, tanpa digali, dicari, dan dipelajari, karena tak seorang pun terlahir dalam keadaan berilmu. Sebagaimana sebuah sya`ir yang saya tuliskan di atas.
Ibnu Ruslan, dalam kitab Zubayd mengatakan lewat sya'ir bahwa, seseorang yang melakukan sesuatu amal tanpa ilmunya, maka itu adalah sia-sia belaka.
Pernah terjadi pada masa Rasulullah, saat Rasul hendak masuk ke dalam masjid, Nabi melihat iblis berada di luar pintu majid, sementara di dalam masjid ada seseorang yang sedang beribadah dan seorang lagi sedang tidur di dekat pintu. Pendek cerita, iblis takut kepada orang yang sedang tidur ketimbang orang yang sedang shalat. Rasul bertanya atas tindakan iblis tersebut, dan iblis pun menjawab: "sebab orang yang sedang shalat itu bodoh, mengganggu dan merusakkan ibadah yang dilakukannya pun sangat mudah. Adapun orang yang sedang tidur terlelap adalah orang alim. Jadi saya takut masuk ke dalam masjid, karena kalau saa sudah berhasil menggangu orang yang shalat itu, pasti orang alim itu aakan mampu mengusir saya dengan doa yang dibacanya sebelum tidur." Nabi pun mengangguk-anggukan kepala mendengar keterangan iblis itu. Beliau makin sadar bahwa ilmu merupakan senjata dan modal bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kesalamatan dunia dan akhirat (dikutip dari 30 Kisah Teladan, Halaman 41-44).
Belajar aau melakukan kegiatan belajar identik dengan membaca. Tanpa membaca, mustahil ilmu dapat diterima dengan baik. Banyak membaca, membawa kita ke arah bepikir yang objektif dan relistis serta mengetahi apa yang terjadi dalam diri kita sendiri.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan Semesta Alam, kita diwajibkan menuntut ilmu dan harus dapat mengimplementasikannya bahwa belajar merupakan rangkaian ibadah kepada Dzat Pencipta, Allah Subhanahu wa ta`ala.
Dengan demikian, terbentuklah sumber daya manusia yang berkepribadian dan bermutu. Berbeicara soal sumber daya manusia, Profesor Dr. Didi Atmadilaga mengatakan bahwa manusia yang bermutu adalah manusia yang sadar akan eksistensinya sebagai makhluk sosial, serta beriman dan bertakwa kepada Tuah Yang Maha Esa, sebagai insan berbudaya yang peduli terhadap nilai-nilai etika, estetika, moral, dan prikehidupan. Sebagai makhluk berakalbudi yang sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang diridhai oleh Sang Pemberi Ilmu.
Makna Kekinian Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang sepenuhnya mendasarkan diri pada nilai kemanusia
Dalam persfektif sosiologis Indonesia,
memisahkan esensi dan hakikat nasionalisme (kebangsaan) Indonesia
dari watak dan karakternya yang bersifat anti-penjajahan
(kolonialisme), anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme merupakan
bentuk pengingkaran atau wujud penolakan terhadap nilai dan hakikat
kemanusiaan bangsa Indonesia itu sendiri.
Nilai dan hakikat
kemanusiaan (atau perikemanusiaan) adalah akar filosofis yang
mengilhami tesis pemikiran nasionalisme Indonesia, sekaligus landasan
fundamental berdirinya bangunan kebangsaan Indonesia.
Nasionalisme Indonesia merupakan
nasionalisme yang sepenuhnya mendasarkan diri pada nilai-nilai
kemanusiaan (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi.
Bertujuan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan setiap bangsa,
untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa diskriminasi apa pun
dalam hubungan-hubungan sosialnya.
Inilah yang membedakan pemikiran
nasionalisme Indonesia bukan sebagai bentuk duplikasi paham
nasionalisme bangsa lain. Pengertian nasionalisme itu sendiri secara
harfiah memiliki pengertian sifatnya universal bagi semua bangsa.
Diktum pemikiran ini tentu bukan karena manifestasi sikap
ultra-nasionalistis atau semacam pembengkakan ego-nasionalisme yang
kelewat besar belaka, melainkan inilah kenyataan sejarah pertumbuhan
dan perkembangan pemikiran nasionalisme Indonesia dalam proses
pembentukannya di masa lampau.
Persoalan menarik yang mengemuka dalam
konteks ini adalah, sejauh mana komitmen kita sebagai generasi
penerus bangsa dalam memelihara dan menjaga kemurnian esensi dan
hakikat pemikiran nasionalisme Indonesia, serta dalam memaknainya
pada konteks kekinian zaman.
Esensi Nasionalisme Indonesia
Sejak lahirnya, nasionalisme Indonesia
sudah menyatakan diri secara tegas sebagai anti-penjajahan
(kolonialisme), anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme. Penegasan
ini berangkat secara mendasar dari pengalaman objektif bangsa
Indonesia sebagai bangsa yang pernah terjajah dan dijajah selama
lebih kurang tiga setengah abad.
Pengalaman objektif sejarah bangsa di
masa lampau merupakan pengalaman pahit sejarah kemanusiaan, ditandai
dengan berlakunya sistem kehidupan yang bersifat anti-sosial dalam
hubungan sosial masyarakat bangsa di bawah alam penguasaan
kolonialisme-imperialisme.
Sistem kehidupan yang anti-sosial tersebut
bersifat menindas dan secara sistematis memperkosa nilai kemanusiaan
dan martabat bangsa dalam segenap aspek kehidupan. Sistem ini
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ciri kehidupan
kapitalistik kaum penjajah, yang diterapkan terhadap kehidupan sosial
masyarakat bangsa Indonesia ketika itu.
Kehadiran kolonial di Tanah Air yang
semula bermotif perdagangan, perlahan meningkat ke arah monopoli
hingga puncaknya yakni pemberlakuan cultuurstelsel. Berbarengan
dengan itu, dilakukanlah perekayasaan sosial (supra maupun
infra-struktur) masyarakat bangsa.
Penaklukan demi penaklukan,
penindasan demi penindasan, berikut politik adu domba devide et
impera dilakukan secara sistematis, untuk menguasai serta menguras
sebanyak-banyaknya potensi sumber daya alam negeri ini. Inilah fakta
sejarah yang dialami bangsa kita di masa lampau.
Berangkat dari fakta sejarah tersebut,
para intelektual pendahulu kita selanjutnya menggali serta
mengartikulasikannya dalam suatu rumusan sistematis saat menyusun dan
membangun gerakan perlawanan modern terhadap penguasaan kolonial.
Lahirlah pemikiran nasionalisme Indonesia sebagai wujud manifestasi
penolakan terhadap sistem kehidupan kapitalis kaum penjajah.
Singkatnya, semangat nasionalisme yang anti-kolonialisme,
anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme.
The founding fathers terdahulu
menyadari sepenuhnya, bahwa pemikiran nasionalisme Indonesia bukan
paham yang anti-bangsa, ras, atau negara tertentu. Namun, pemikiran
yang secara objektif melihat sistem kehidupan yang menindas pada
zaman tersebut.
Itu sebabnya, Bung Karno sebagai salah satu aktor
intelektual bangsa terdahulu, bukan saja melihat ancaman kapitalisme
semata-mata dari bangsa asing (Barat), melainkan juga ancaman
kapitalisme bangsa sendiri. Menurut Bung Karno, kapitalisme bukanlah
identifikasi suatu bangsa tertentu, melainkan suatu paham atau sistem
pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum
buruh dari alat-alat produksi.
Nasionalisme di Era Globalisasi
Sebagai generasi penerus bangsa, dewasa
ini kita dihadapkan pada dua sisi tantangan; menjaga kemurnian esensi
serta hakikat nasionalisme Indonesia (yang berarti juga menjaga
kemurnian nilai-nilai kemanusiaan) serta berupaya secara aktif
mengantisipasi perkembangan situasi zaman khususnya, arus globalisasi
yang sedemikian hebat pengaruh dan implikasinya.
Dari dua sisi
tantangan inilah kita dapat menempatkan posisi dan peran strategis
yang bagaimana mesti kita selenggarakan/jalankan.
Menjaga kemurnian esensi nilai-nilai
kebangsaan selain merupakan keharusan komitmen sejarah, juga
merupakan manifestasi perjuangan tuntutan budi-nurani kemanusiaan
kita sebagai bangsa atau tuntutan manusia Indonesia. Oleh sebab itu,
esensi dan hakikat nasionalisme Indonesia yang dahulu telah
diartikulasikan para pendahulu kita, wajib untuk kita lanjutkan serta
wariskan pada generasi berikutnya.
Perjuangan melawan kolonialisme,
imperialisme, dan kapitalisme merupakan perjuangan yang masih tetap
relevan selama ketidakadilan dan penindasan nilai-nilai kemanusiaan
masih terjadi di belahan dunia mana pun.
Perkembangan atau perubahan zaman bukan
berarti berubahnya esensi dan hakikat perjuangan kebangsaan.
Perubahan yang mungkin terjadi semata-mata hanya menyangkut bentuk
atau format perjuangan. Jika di masa lampau, perjuangan the founding
father terdahulu dalam bentuk fisik (revolusi kemerdekaan) yang
dengan sendirinya mengharuskan perjuangan bersenjata, dewasa ini
perjuangan tersebut terselenggara dalam bentuk atau format non-fisik.
Mencermati esensi perkembangan zaman
globalisasi dewasa ini, sudah seharusnya kita menaruh kewaspadaan
terhadap gelagat perkembangan globalisasi tersebut. Kewaspadaan yang
didasarkan sepenuhnya terhadap upaya kita menjaga dan memelihara
esensi perjuangan kebangsaan kita sendiri.
Hal ini menjadi cukup
penting mengingat di balik perkembangan global yang terjadi dewasa
ini, sesungguhnya tidak bergeser dari watak dasar
kolonialisme-imperialisme-kapitalisme tua yang sifatnya
mengeksploitasi, menjajah, dan menindas. Namun, dalam metode dan
modus yang dikemas baru.
Atas nama globalisasi, jaringan
kapitalisme dunia dengan metode manajemen multinational corporation
disusun secara apik guna menjarah sebesar-besarnya sumber daya alam
negara-negara berkembang/terbelakang.
Melalui pendekatan pilihan
penyebaran jaringan industrinya pada kawasan-kawasan wilayah tertentu
secara parsial, dominasi keunggulan teknologi (hi-tech) akan tetap
berada di pihak negara induk MNC tersebut. Alih teknologi yang
sesungguhnya hanya menjadi sebuah mimpi bagi dunia ketiga.
Negara dunia ketiga ditindas atau
diperkosa hak-hak kemanusiannya dalam wujud western-dream,
konsumerisme, struktur uang luar negeri yang semakin membengkak dan
sebagainya. Inilah imperialisme-kapitalisme gaya baru yang
tersembunyi secara massif dalam mainstream arus globalisasi tersebut.
Mengingat bentuk “penjajahan”
tersebut telah bermetamorfosa dari bentuknya yang dulu, dalam konteks
Indonesia khususnya, perlawanan yang harus disusun tentulah dalam
bentuk baru juga.
Misalnya di bidang ekonomi, manifestasi perjuangan
kebangsaan kita sebaiknya diarahkan secara mendasar ke arah upaya
memaksimalkan basis perekonomian rakyat yang lebih berdikari.
Menguatnya basis perekonomian rakyat yang mencerminkan kekuatan
sendiri, pada akhirnya akan memperkuat struktur perekonomian bangsa
secara menyeluruh. Rakyat bukan lagi sebagai abdi kepentingan ekonomi
asing.
Memaksimalkan basis perekonomian
rakyat, sebuah upaya yang harus benar-benar dilandasi political-will
yang mendasar, konsisten dan bukan sekedar “politik etis”,
sebagaimana yang selama ini terjadi. Satu-satunya upaya kearah itu,
yang diamanatkan UUD 1945, adalah kehidupan perkoperasian sebagai
tulang punggung kehidupan ekonomi bangsa.
Nasionalisme dalam era global pada
hakikatnya menuntut kita untuk menyusun bentuk-bentuk baru modus
perjuangan kebangsaan, perjuangan kemanusiaan.
Globalisasi bukanlah
sebuah paradigma yang seakan-akan mengharuskan kita meninjau kembali,
atau mendefenisikan ulang pemahaman esensi serta hakikat nasionalisme
Indonesia sesuai parameter dan ukurannya. Sayangnya, banyak kalangan
yang justru berfikir demikian. Akhirnya lahirlah gagasan gila
“nasionalisme-baru” yang tidak lagi anti penjajahan
(kolonialisme) atau anti-imperialisme dan anti-kapitalisme.
*Penulis adalah Sekjen Presidium
Nasional Ikatan Alumni GMNI.
Setelah Dibeli Microsoft, Tidak Ada Lagi Ponsel Merek “Nokia”
Written By nursetya on Minggu, 15 September 2013 | 10:05:00 PM
Selasa (3/9/2013) kemarin, muncul kabar mengejutkan bahwa unit bisnis
perangkat dan layanan Nokia akan dibeli Microsoft. Total dana yang
dikeluarkan bisa mencapai 7,2 miliar dollar AS.
Transaksi yang diperkirakan bakal rampung pada kuartal pertama 2014
tersebut membawa dampak besar bagi bisnis ponsel Nokia, termasuk dalam
kepemilikan brand “Lumia” dan “Asha”.
The Verge melaporkan bahwa dua merek dagang tersebut turut
diikutkan dalam akuisisi oleh Microsoft. Artinya, tak akan ada lagi
ponsel Lumia dan Asha dari Nokia karena kedua nama yang identik dengan
produk-produk Nokia tersebut kini telah beralih pemilik.
Nantinya, ponsel Lumia dan Asha akan mengusung brand Microsoft. Ponsel-ponsel Lumia dan Asha yang beredar saat ini bakal jadi produk terakhir yang mengusung nama “Nokia”.
Menariknya, nama Nokia sendiri tetap menjadi hak milik produsen asal
Finlandia itu, alias tak ikut dibeli oleh Microsoft. Nokia hanya boleh
dipakai sebagai merek feature phone selama 10 tahun ke depan, sesuai dengan perjanjian antarkedua perusahaan.
Hal itu berarti, Nokia sebagai merek smartphone tak akan ada lagi. Kemungkinan semua smartphone Microsoft akan mengusung nama Lumia atau Asha atau nama baru.
Akhir dari Nokia
Begitu pembelian rampung pada tahun depan, Nokia pun akan resmi undur
diri dari dunia ponsel, menandai akhir dari kiprah perusahaan tersebut
selama 16 tahun di industri ini.
Nokia pernah menjadi produsen ponsel terbesar selama 14 tahun sebelum
kalah bersaing melawan kubu Android dan Apple yang dengan cepat
menggerus pangsa pasarnya.
Seperti dikutip dari Hardware Zone, perusahaan kenamaan itu akan terus eksis karena Microsoft tak membeli keseluruhan bisnis Nokia.
Seperti diberitakan Kompas, ada tiga area utama yang masih
dimiliki oleh Nokia dan akan menjadi fokusnya di masa depan, yaitu NSN
(infrastruktur Jaringan), HERE (teknologi pemetaan), dan Advanced
Technologies (lisensi dan pengembangan).





