Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter dan Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter dan Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Kurikulum 2013 Menekankan Pembangunan Karakter Anak

Written By nursetya on Kamis, 13 Maret 2014 | 7:41:00 AM

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak reaksi bermunculan dari berbagai pihak terkait penerapan Kurikulum 2013, termasuk reaksi dari siswa dan guru. Sebenarnya, apa yang membedakan antara pelaksanaan Kurikulum 2013 dan kurikulum sebelumnya?

Ditemui di sela Rembuk Nasional (Rembuknas) Pendidikan dan Kebudayaan 2014 di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (6/3/2014), Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P2TK) Ditjen Pendidikan Dasar (Dikdas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sumarna Surapranata, menjelaskan bahwa dalam sistem pengajaran Kurikulum 2013 bisa saja berbeda. Misalnya, bila kurikulum lama bentuk pengajaran hanya menekankan pada aspek mencatat maka pada Kurikulum 2013 lebih banyak menuntut kreativitas guru untuk merangsang kecerdasan murid-muridnya.

"Guru harus membuat siswa lebih aktif. Guru tidak hanya mencatat dan menerangkan, tetapi harus membuat sekolah nyaman," kata Sumarna.

Aplikasi Kurikulum 2013, lanjut Sumarna, menekankan pada penanaman karakter dan budaya kepada siswa terdidik sejak usia dini. Fokus pengajaran tidak hanya pada mata pelajaran ilmu pasti, seperti Matematika atau IPA.

"Misalnya, guru sedang mengajar tema tentang diri seseorang, maka dia bicara mengenai tangan. Lalu, si anak diminta menghitung jari, satu, dua, tiga, sampai lima. Itu secara tidak langsung mengajarkan Matematika. Lalu, warna tangannya, tanpa sadar bisa berupa pelajaran IPA. Jadi, anak bisa menceritakan, tidak hanya hitungan satu, dua, tiga," jelasnya.

Penanaman karakter tersebut, sambung Sumarna, menjadi sangat penting dan bisa dijadikan pedoman pendidikan karakter pada masa mendatang. Sebab, penanaman karakter anak akan berkembang ke sifat-sifat anak selanjutnya setelah dewasa. Hanya saja, hasil dari pendidikan itu membutuhkan waktu beberapa lama.

"Mungkin, tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat. Pembangunan pendidikan tidak bisa dalam waktu sekejap seperti bangunan fisik. Tapi, harapannya pembangunan itu akan mengarah ke sesuatu yang lebih baik," katanya.

Belajar adalah Ibadah

Written By nursetya on Sabtu, 28 September 2013 | 8:55:00 AM

Belajar dan ibadah merupakan hal penting yang menjadi bekal utama bagi kehidupan dunia dan akhirat. Dengan belajar, manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam hidup. Terutama di zaman globalisasi sekarang ini. Ilmu pengetahuan bergerak sangat cepat. Kalau kita tidak mengikutinya maka keberadaan kita akan tetinggal.
Tanpa beribadah, tidak mungkin sesorang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah. Orang yang tidak beribadah tidak mungkin meraih karunia Allah. Sedemikian banyak manfaat yang diraih dengan ibadah, terutama bagi kesehatan mental dan juga terutama jiwa. Oleh sebab itu, belajar harus disandarkan ibadah kepada Allah Subhânahû wa Ta`âlâ.
Islam berdasarkan ajarannya pada wahyu dan akal, tentu tidak bisa dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Sesorang menurut Islam mendapatkan dua amanat, yakni amanat ubudiyah dan khilâfah. Kedua amanat tersebut tentu tidak mungkin terlaksana tanpa ada ilmu. Maka, mengemban amanat itu harus dibarengi dengan ilmu.
 
Awal kerasulan Rasulullah Shalla-l-llâhu `alayhi wa sallama (SAW), dimulai dengan perintah membaca dan menyebut nama Tuhan yang menciptakan.
 
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ اْلـَّذِيْ خَلَقَ

Artinya:
Bacalah (wahai Muhammad), dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan... (Al-`Alaq: 1)

Ilmu pengetahuan tidak datang begitu saja, tanpa digali, dicari, dan dipelajari, karena tak seorang pun terlahir dalam keadaan berilmu. Sebagaimana sebuah sya`ir yang saya tuliskan di atas.
Ibnu Ruslan, dalam kitab Zubayd mengatakan lewat sya'ir bahwa, seseorang yang melakukan sesuatu amal tanpa ilmunya, maka itu adalah sia-sia belaka.
Pernah terjadi pada masa Rasulullah, saat Rasul hendak masuk ke dalam masjid, Nabi melihat iblis berada di luar pintu majid, sementara di dalam masjid ada seseorang yang sedang beribadah dan seorang lagi sedang tidur di dekat pintu. Pendek cerita, iblis takut kepada orang yang sedang tidur ketimbang orang yang sedang shalat. Rasul bertanya atas tindakan iblis tersebut, dan iblis pun menjawab: "sebab orang yang sedang shalat itu bodoh, mengganggu dan merusakkan ibadah yang dilakukannya pun sangat mudah. Adapun orang yang sedang tidur terlelap adalah orang alim. Jadi saya takut masuk ke dalam masjid, karena kalau saa sudah berhasil menggangu orang yang shalat itu, pasti orang alim itu aakan mampu mengusir saya dengan doa yang dibacanya sebelum tidur." Nabi pun mengangguk-anggukan kepala mendengar keterangan iblis itu. Beliau makin sadar bahwa ilmu merupakan senjata dan modal bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kesalamatan dunia dan akhirat (dikutip dari 30 Kisah Teladan, Halaman 41-44).
Belajar aau melakukan kegiatan belajar identik dengan membaca. Tanpa membaca, mustahil ilmu dapat diterima dengan baik. Banyak membaca, membawa kita ke arah bepikir yang objektif dan relistis serta mengetahi apa yang terjadi dalam diri kita sendiri.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan Semesta Alam, kita diwajibkan menuntut ilmu dan harus dapat mengimplementasikannya bahwa belajar merupakan rangkaian ibadah kepada Dzat Pencipta, Allah Subhanahu wa ta`ala.
Dengan demikian, terbentuklah sumber daya manusia yang berkepribadian dan bermutu. Berbeicara soal sumber daya manusia, Profesor Dr. Didi Atmadilaga mengatakan bahwa manusia yang bermutu adalah manusia yang sadar akan eksistensinya sebagai makhluk sosial, serta beriman dan bertakwa kepada Tuah Yang Maha Esa, sebagai insan berbudaya yang peduli terhadap nilai-nilai etika, estetika, moral, dan prikehidupan. Sebagai makhluk berakalbudi yang sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang diridhai oleh Sang Pemberi Ilmu.

Makna Kekinian Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang sepenuhnya mendasarkan diri pada nilai kemanusia

Dalam persfektif sosiologis Indonesia, memisahkan esensi dan hakikat nasionalisme (kebangsaan) Indonesia dari watak dan karakternya yang bersifat anti-penjajahan (kolonialisme), anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme merupakan bentuk pengingkaran atau wujud penolakan terhadap nilai dan hakikat kemanusiaan bangsa Indonesia itu sendiri.
 
Nilai dan hakikat kemanusiaan (atau perikemanusiaan) adalah akar filosofis yang mengilhami tesis pemikiran nasionalisme Indonesia, sekaligus landasan fundamental berdirinya bangunan kebangsaan Indonesia.
Nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang sepenuhnya mendasarkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi. Bertujuan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan setiap bangsa, untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa diskriminasi apa pun dalam hubungan-hubungan sosialnya.
Inilah yang membedakan pemikiran nasionalisme Indonesia bukan sebagai bentuk duplikasi paham nasionalisme bangsa lain. Pengertian nasionalisme itu sendiri secara harfiah memiliki pengertian sifatnya universal bagi semua bangsa.
Diktum pemikiran ini tentu bukan karena manifestasi sikap ultra-nasionalistis atau semacam pembengkakan ego-nasionalisme yang kelewat besar belaka, melainkan inilah kenyataan sejarah pertumbuhan dan perkembangan pemikiran nasionalisme Indonesia dalam proses pembentukannya di masa lampau.
Persoalan menarik yang mengemuka dalam konteks ini adalah, sejauh mana komitmen kita sebagai generasi penerus bangsa dalam memelihara dan menjaga kemurnian esensi dan hakikat pemikiran nasionalisme Indonesia, serta dalam memaknainya pada konteks kekinian zaman.
Esensi Nasionalisme Indonesia
Sejak lahirnya, nasionalisme Indonesia sudah menyatakan diri secara tegas sebagai anti-penjajahan (kolonialisme), anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme. Penegasan ini berangkat secara mendasar dari pengalaman objektif bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pernah terjajah dan dijajah selama lebih kurang tiga setengah abad.
Pengalaman objektif sejarah bangsa di masa lampau merupakan pengalaman pahit sejarah kemanusiaan, ditandai dengan berlakunya sistem kehidupan yang bersifat anti-sosial dalam hubungan sosial masyarakat bangsa di bawah alam penguasaan kolonialisme-imperialisme.
Sistem kehidupan yang anti-sosial tersebut bersifat menindas dan secara sistematis memperkosa nilai kemanusiaan dan martabat bangsa dalam segenap aspek kehidupan. Sistem ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ciri kehidupan kapitalistik kaum penjajah, yang diterapkan terhadap kehidupan sosial masyarakat bangsa Indonesia ketika itu.
Kehadiran kolonial di Tanah Air yang semula bermotif perdagangan, perlahan meningkat ke arah monopoli hingga puncaknya yakni pemberlakuan cultuurstelsel. Berbarengan dengan itu, dilakukanlah perekayasaan sosial (supra maupun infra-struktur) masyarakat bangsa.
Penaklukan demi penaklukan, penindasan demi penindasan, berikut politik adu domba devide et impera dilakukan secara sistematis, untuk menguasai serta menguras sebanyak-banyaknya potensi sumber daya alam negeri ini. Inilah fakta sejarah yang dialami bangsa kita di masa lampau.
Berangkat dari fakta sejarah tersebut, para intelektual pendahulu kita selanjutnya menggali serta mengartikulasikannya dalam suatu rumusan sistematis saat menyusun dan membangun gerakan perlawanan modern terhadap penguasaan kolonial. Lahirlah pemikiran nasionalisme Indonesia sebagai wujud manifestasi penolakan terhadap sistem kehidupan kapitalis kaum penjajah. Singkatnya, semangat nasionalisme yang anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme.
The founding fathers terdahulu menyadari sepenuhnya, bahwa pemikiran nasionalisme Indonesia bukan paham yang anti-bangsa, ras, atau negara tertentu. Namun, pemikiran yang secara objektif melihat sistem kehidupan yang menindas pada zaman tersebut.
Itu sebabnya, Bung Karno sebagai salah satu aktor intelektual bangsa terdahulu, bukan saja melihat ancaman kapitalisme semata-mata dari bangsa asing (Barat), melainkan juga ancaman kapitalisme bangsa sendiri. Menurut Bung Karno, kapitalisme bukanlah identifikasi suatu bangsa tertentu, melainkan suatu paham atau sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi.
 
Nasionalisme di Era Globalisasi
Sebagai generasi penerus bangsa, dewasa ini kita dihadapkan pada dua sisi tantangan; menjaga kemurnian esensi serta hakikat nasionalisme Indonesia (yang berarti juga menjaga kemurnian nilai-nilai kemanusiaan) serta berupaya secara aktif mengantisipasi perkembangan situasi zaman khususnya, arus globalisasi yang sedemikian hebat pengaruh dan implikasinya.
Dari dua sisi tantangan inilah kita dapat menempatkan posisi dan peran strategis yang bagaimana mesti kita selenggarakan/jalankan.
Menjaga kemurnian esensi nilai-nilai kebangsaan selain merupakan keharusan komitmen sejarah, juga merupakan manifestasi perjuangan tuntutan budi-nurani kemanusiaan kita sebagai bangsa atau tuntutan manusia Indonesia. Oleh sebab itu, esensi dan hakikat nasionalisme Indonesia yang dahulu telah diartikulasikan para pendahulu kita, wajib untuk kita lanjutkan serta wariskan pada generasi berikutnya.
Perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme merupakan perjuangan yang masih tetap relevan selama ketidakadilan dan penindasan nilai-nilai kemanusiaan masih terjadi di belahan dunia mana pun.
Perkembangan atau perubahan zaman bukan berarti berubahnya esensi dan hakikat perjuangan kebangsaan. Perubahan yang mungkin terjadi semata-mata hanya menyangkut bentuk atau format perjuangan. Jika di masa lampau, perjuangan the founding father terdahulu dalam bentuk fisik (revolusi kemerdekaan) yang dengan sendirinya mengharuskan perjuangan bersenjata, dewasa ini perjuangan tersebut terselenggara dalam bentuk atau format non-fisik.
Mencermati esensi perkembangan zaman globalisasi dewasa ini, sudah seharusnya kita menaruh kewaspadaan terhadap gelagat perkembangan globalisasi tersebut. Kewaspadaan yang didasarkan sepenuhnya terhadap upaya kita menjaga dan memelihara esensi perjuangan kebangsaan kita sendiri.
Hal ini menjadi cukup penting mengingat di balik perkembangan global yang terjadi dewasa ini, sesungguhnya tidak bergeser dari watak dasar kolonialisme-imperialisme-kapitalisme tua yang sifatnya mengeksploitasi, menjajah, dan menindas. Namun, dalam metode dan modus yang dikemas baru.
Atas nama globalisasi, jaringan kapitalisme dunia dengan metode manajemen multinational corporation disusun secara apik guna menjarah sebesar-besarnya sumber daya alam negara-negara berkembang/terbelakang.
Melalui pendekatan pilihan penyebaran jaringan industrinya pada kawasan-kawasan wilayah tertentu secara parsial, dominasi keunggulan teknologi (hi-tech) akan tetap berada di pihak negara induk MNC tersebut. Alih teknologi yang sesungguhnya hanya menjadi sebuah mimpi bagi dunia ketiga.
Negara dunia ketiga ditindas atau diperkosa hak-hak kemanusiannya dalam wujud western-dream, konsumerisme, struktur uang luar negeri yang semakin membengkak dan sebagainya. Inilah imperialisme-kapitalisme gaya baru yang tersembunyi secara massif dalam mainstream arus globalisasi tersebut.
Mengingat bentuk “penjajahan” tersebut telah bermetamorfosa dari bentuknya yang dulu, dalam konteks Indonesia khususnya, perlawanan yang harus disusun tentulah dalam bentuk baru juga.
Misalnya di bidang ekonomi, manifestasi perjuangan kebangsaan kita sebaiknya diarahkan secara mendasar ke arah upaya memaksimalkan basis perekonomian rakyat yang lebih berdikari. Menguatnya basis perekonomian rakyat yang mencerminkan kekuatan sendiri, pada akhirnya akan memperkuat struktur perekonomian bangsa secara menyeluruh. Rakyat bukan lagi sebagai abdi kepentingan ekonomi asing.
Memaksimalkan basis perekonomian rakyat, sebuah upaya yang harus benar-benar dilandasi political-will yang mendasar, konsisten dan bukan sekedar “politik etis”, sebagaimana yang selama ini terjadi. Satu-satunya upaya kearah itu, yang diamanatkan UUD 1945, adalah kehidupan perkoperasian sebagai tulang punggung kehidupan ekonomi bangsa.
Nasionalisme dalam era global pada hakikatnya menuntut kita untuk menyusun bentuk-bentuk baru modus perjuangan kebangsaan, perjuangan kemanusiaan.
Globalisasi bukanlah sebuah paradigma yang seakan-akan mengharuskan kita meninjau kembali, atau mendefenisikan ulang pemahaman esensi serta hakikat nasionalisme Indonesia sesuai parameter dan ukurannya. Sayangnya, banyak kalangan yang justru berfikir demikian. Akhirnya lahirlah gagasan gila “nasionalisme-baru” yang tidak lagi anti penjajahan (kolonialisme) atau anti-imperialisme dan anti-kapitalisme.
*Penulis adalah Sekjen Presidium Nasional Ikatan Alumni GMNI.

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Written By nursetya on Sabtu, 13 Juli 2013 | 10:09:00 PM

Ayah dan ibu adalah dua orang yang sangat berjasa kepada kita. Lewat keduanyalah kita terlahir di dunia ini. Keduanya menjadi sebab seorang anak bisa mencapai Surga. Doa mereka ampuh. Kutukannya juga manjur. Namun betapa banyak sekarang ini kita jumpai anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Panti jompo menjamur di mana-mana, ini menunjukkan tidak mengertinya sang anak akan 'harga' kedua orang tua. Mereka titipkan kedua orang tuanya di sana dalam keadaan sengsara dan kesepian melewati masa-masa tuanya, sementara mereka bersenang-senang di rumah mewah. Kejadian seperti ini juga akibat kesalahan orang tua yang tidak memberikan pendidikan agama kepada anaknya.
Nash yang berbicara tentang perintah dan anjuran berbuat baik kepada kedua orang tua :
Dari Al Quranul Karim
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua … ." (An Nisa : 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat di atas : "Kemudian (setelah menyuruh bertauhid, pent.) Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari tidak ada menjadi ada. Dan banyak sekali Allah menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua."

Katakanlah : "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Rabb kalian, yaitu janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua." (Al Anam : 151)

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : "Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Al Isra : 23-24)

"Dan Kami wajibkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kalian kembali lalu Aku khabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan." (Al Ankabut : 8)
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : "Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan-Nya itu adalah kedhaliman yang besar." Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku-lah kalian kembali maka Ku-beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Luqman : 13-15)

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia dewasa dan umurnya telah sampai empat puluh tahun, ia berdoa : "Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri." Mereka inilah orang-orang yang Kami terima dari mereka amalan yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka bersama penghuni-penghuni Surga sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al Ahqaf : 15-16)
Ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang agung di atas memberikan pelajaran kepada kita betapa besarnya kedudukan kedua orang tua. Kita wajib mematuhi keduanya selama keduanya menyuruh kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah

Adab Seorang Murid Terhadap Guru

Ingatlah wahai para siswa yang mempunyai tatakrama, bahwasannya guru ketika mendidik kamu sangat sulit diantaranya : Mendidik akhlak kalian, Mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan memberikan nasihat yang baik, kesemuanya itu agar kamu bahagia seperti orang tua membahagiakan anaknya dan mengharapkan masa depan kalian berpendidikan.
Adapun adab seorang murid terhadap gurunya adalah sebagai berikut :
  1. Muliakanlah guru kalian seperti apa kamu memuliakan orang tua kalian.
  2. Ketika kamu duduk dihadapan guru maka duduklah dengan sopan.
  3. Berbicaralah dengan sopan
  4. Jangan sekali-kali kamu memotong pembicaraan gurumu akan tetapi kamu menunggu sampai selesai pembicaraannya.
  5. Dengarkanlah apa yang disampaikan gurumu dari pelajaran.
  6. Ketika kamu tidak faham dengan suatu pelajaran maka tanyakanlah degan sopan santun dengan mengangkat tangan terlebih dahulu sampai guru kamu mengizinkan kamu bertanya.
  7. Ketika guru kamu bertanya kepada kamu, jawablah dengan baik dan jangan sampai menjawab dengan jawaban yang lainnya karena hal itu tidak ada dalam adab atau tatakrama.
Kemudian apabila kamu ingin menyenangkan gurur kamu maka tetapkanlah kewajibanmu diantaranya :
  1. Untuk hadir setiap hari dan jangan sampai terlambat kecuali ada alasan yang membenarkan
  2. Dahulukan masuk ke kelas.
  3. Faham dalam segala pelajaran.
  4. Menghafalkan dan menela’ah atau mempelajari kembali pelajaran.
  5. Menjaga kebersihan di buku kalian dan diperalatan sekolah kalian.
  6. Patuh terhadap perintah guru.
  7. Jangan sampai marah ketika gurumu mendidik kalian karena mendidik kamu suatu kewajiban dan hendaklah bersyukur dan tidak sombong.
  8. Mendo’akannya, dengan do’a sebagai berikut :
اللهم اغفر للمعلمين واطل اعمارهم وبارك لهم في كسبهم ومعاشهم واظلهم تحت ظلك فانهم يعلمون كتابك المنزل
Artinya : “Ya Allah, ampunillah orang-orang yang mengajar, panjangkanlah umur mereka, berkailah usaha dan kehidupan mereka, dan lindungilah mereka dibawah perlindungan-Mu. Karena sesungguhnya merekalah yang mengajar kitab yang Engkau turunkan”.

Pengertian Pendidikan Karakter

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

Gambar: Keterkaitan antara komponen moral dalam rangka pembentukan 
Karakter yang baik menurut Lickona

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.
Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini

18 Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

Nah demikianlah beberapa pengertian pendidikan karakter menurut para ahli, semoga bermanfaat.

English French Spain Italian Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Mutiara Hikmah
"Siapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat harus dengan ilmu, dan siapa yang menghendaki keduanya harus dengan ilmu."
(Rasulullah SAW)

 
Support : Sinau Teika
Copyright © 2013. SMP N 3 KLATEN Sekolah Standart Nasional - All Rights Reserved
Template Created by Nursetya.Smart Published by Mr.Smart SMPN3KLATEN
Proudly powered by Blogger